Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengizinkan manusia untuk makan segala macam yang
ada di bumi ini dengan syarat bahwa yang dimakan itu adalah halaalan
thoyyiban. Halal lagi thoyyib. Allah berfirman:
“Yaa
ayyuhan naasu kuluu mimmaa fil ardhi halaalan thoyyiban”
(Wahai
manusia makanlah apa yang ada di bumi ini makanan yang halal lagi thoyyib)
Yang
halal sudah jelas. Yang haram juga sudah jelas. Dan diantara keduanya terdapat
perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui banyak
orang. hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shalla Allahu 'alaihi wa Sallam:
“Innal
halaala bayyinun, wa innal harooma bayyinun. Wa bainahumaa umuurun
musytabihaatun laa ya’lamuhunna katsiirun minan naas ....” (Muttafaq ‘Alaih)
(Yang
halal sudah jelas. Yang haram juga sudah jelas. Dan diantara keduanya terdapat
perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui banyak
orang).
Siapa yang dapat menjaga diri dari yang syubhat (yang samar) maka
dia telah menjaga keselamatan agama dan kehormatan dirinya. Dan barang siapa
yang bermain-main dengan perkara yang syubhat, besar kemungkinan dia
akan jatuh ke dalam perakara yang haram. Demikianlah dianatara lanjuta pesan Rasul tersebut.
Jama’ah
jumat Rahimaniy wa Rahimakumullah
Itu
sekilas tentang halal. Sedangkan mengenai thayyib, sebagaimana Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada para RasulNya untuk makan
makanan yang baik-baik (thoyibaat), Allah Ta’ala juga telah memerintahkan
orang-orang yang beriman untuk makan yang baik-baik juga, dari segala macam
rizki yang telah Allah berikan kepada mereka. Hal ini termaktub dalam
firmanNya:
“Yaa
ayyuhar rusulu kuluu minath-thoyyibaati wa’maluu shoolihaa”
(Wahai
para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah)!
“Yaa
ayyuhal ladziiana aamanuu kuluu min thoyyibaati maa rozaqnaakum”
(Wahai
orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang Kami
rizkikan kepada kalian)
Imam
as-Shabuniy menjelaskan makna at-Thayyibaat sebagai berikut ini. “Yang dimaksud
dengan at-thoyyibaat adalah rizki yang halal. Maka semua yang dihalalkan
oleh Allah adalah thayyib (baik). Sedang semua yang diharamkan
oleh Allah adalah khobiits (kotor)”.
Umar
ibn Abdil ‘Aziz berkata:”Yang dimaksud adalah baik usahanya, bukan baik
makanannya”. Hal ini sebagamana dikuatkan oleh hadits:
عن أبي هريرة قال قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا وإن الله أمر
المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال تعالى: ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ
الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ). وقال
تعالى: ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا
رَزَقْنَاكُمْ). ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب
يارب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له
(HR.
Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidziy dari Abu Hurairah)
Inilah
penjelasan ath-Thoyyib minar rizqi dengan penjelasan Rasulullah
SAW.
Pakaian, nasi, air putih yang kita minum, atau rumah yang kita tempati, yang pada asalnya halal akan menjadi tidak thayyib dalam pandangan Allah jika dihasilkan dari usaha yang haram seperti mencuri, menipu, merampok, korupsi misalnya.
Dalam
hadits tersebut juga dapat kita ambil faidah bahwa diantara perkara-perkara
yang menyebabkan do’a tidak mustajab adalah karena mengkonsumsi
barang-barang yang haram. Bisa jadi ada, bahkan mungkin banyak -atas kehendak
Allah- orang yang mengkonsumsi barang yang haram permintaan-permintaannya
selalu terkabulkan. Maka hati-hati kalau itu terjadi pada diri kita. Barangkali
itu merupakan istidroj dari Allah. Yaitu sebuah bentuk panglulon oleh
Allah. Dicekoki dengan terkabulnya segala permintaan yang akhirnya justru
semakin menjauhkan dari Allah. Na’udzu billah min dzaalik.(mf-)

0 comments:
Post a Comment